Langsung ke konten utama

cerita umi dan engkong

Sekitar tahun 1979an, pria itu berjalan kaki dari sekitar dago atas menuju kampusnya di sekitaran jalan Ganesha. Ia bekerja di sana, sebagai salah satu asisten dosen laboratorium di Teknik Mesin. Sebetulnya, jarak rumah kontrakannya dengan lab cukup jauh. Orang lain akan memilih angkot dengan biaya 25 perak daripada harus bercape-cape jalan kaki. Ia melakukannya agar bisa membeli pepaya untuk istrinya yang sedang hamil di rumah. Setiap hari. Ia berjalan kaki.

Gajinya saat itu sekitar 13.000 rupiah, menurut istrinya jika sudah mampu membeli telur utk lauk makan, berarti sudah hebat saat itu. Tapi mereka pasangan yang baru menikah, tetap bersyukur dengan kondisi mereka. Apalagi mereka sedang menanti si kecil untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Mereka ikhlas dengan segala kondisi dan tetap ikhtiar utk yg terbaik, karena mereka menikah utk melengkapi ibadah mereka. Alloh Maha Menolong.

2010. Pasangan suami istri itu bercerita di meja makan rumah mereka. Mereka sedang menikmati makan malam dengan lauk pauk yg lezat hasil masakan istri. Lengkap dan berkualitas. Mereka tertawa mengenang kisah awal pernikahan mereka. Hingga saat ini sudah memiliki 4 putri. 3 Menantu. Serta 3 cucu laki-laki.

Saya putri ketiga

Komentar

Ossy mengatakan…
1 calon cucu???
yudhi puspa tya mengatakan…
hehe gaheeee...
pasti yg cerita nyoi lo ya, bokap paling mesem2 doang, hihi udah bisa kebayang suasana di meja makannya ^^
ega mengatakan…
ossy: hahah iyaaaaa betchullll skali kamu mama ossy!

tya: emberrr..spt biasa, emak gw yg dominan..hihiih

Postingan populer dari blog ini

Slow cooker, temanku..

Berhubung bukan ratu dapur...alias bener2 ga ngerti alat perang di dapur, saya bener2 terbantu dengan penemuan slowcooker utk memasak makanan allena

Buat saya yg kerja, waktunya ga banyak utk Allena, tapi pengen terlibat banyaaaaak dalam urusan yang masuk ke perut allena, jadilah alat ini sangat membantu. Klo digodok (ya itulah, bahasa emak2, artinya dimasak dalem rantang, tpi dikasih wadah air dibawahnya, trus dimasak agak lama di kompor, kira2 gtu), ga akan sempet utk saya yang berangkat subuh, pulang isya. Sebetulnya bisa aja, tp saya harus bangun jam 3 pagi, untuk berkutat dengan kentang, wortel, zukini dan teman-temannya. Duh rempong juga ya.. Secara roh saya jg masih wara wiri kali, hehehe.

Sebetulnya bisa juga saya titipkan urusan masak memasak ini dengan ibu saya, ato dengan ART di rumah, tapi kok ya rasanya saya ga mau. Cukup deh, saya ga bisa 24 hr/7 days di dekat Allena, jangan sampe masalah makannya, saya jg ga bisa handle. Sebetulnya ini untuk menghapus rasa bersalah aj…

10-baby-thingy must have item (11! i revised)

ini postingan sebetulnya udah lamaaa bgt pengen dibuat,  tapi ga sempet2. Baru sempet kepikiran, karena ini merupakan pengalaman pribadi saya sendiri, dan baru kerasa pas anak kedua, ada beberapa barang yang ternyata lumayan pricey, tapi worth to have, malahan must have karena sangat bermanfaat. oke, let's start..
1. Pompa ASI saya ingatkan yaah, ini memang berdasarkan pengalaman saya. Mungkin di ibu baru lainnya, item ini akan tidak diperlukan. Semuanya depends on her condition. Kondisi saya? saya ibu bekerja. Untuk saya pompa ASI sangat bermanfaat, untuk mensupport saya agar bisa ASI exclusif hingga 2 tahun. Pengalaman dengan Allena, saya pumping sampai H-1 Allena usia 2 tahun, dan berhasil disapih di usia 30 bulan. Saya pakai pompa ASI, merk Medela, mini electric. Pompa ini saya peroleh dari lungsuran kakak saya. Saya sempat pakai 2 type, Medela Harmony (manual), itu pun lungsuran kakak saya. Tetapi ternyata partnya gampang banget robek, apalagi type pemakaian seperti saya, yan…

staycation: The 101 hotel and resort bogor

Mendadak staycation jadi turis sehari di kota sendiri
November ini blass kita cuma menikmati kota Bogor. Rencana ultah anak-anak di pertengahan bulan, bikin ngerem (budget) dan juga nyicil persiapan (ini sebenernya ga jelas jg sik, hahahah).  Tapi yang jelas wiken, kdg abis waktu cm buat balikin nyawa aja buat persiapan weekdays berikutnya hiihihhi.
Trus tiba2 rezeki dateng, suami bilang, dia dapet voucher nginep di The 101 hotel Bogor. Ahhh asikkk, lgsg semangad packing bwt staycationan.
hari sabtu tiba, saya memastikan rumah beres dulu. Setelah masak, nyiapin anak2 (mandi makan) dan bibi kesayangan bantu beresin rumah, baru deh kita siap2 berangkat. Hari itu bertepatan pula dengan konser piano 2 sepupu Allena, jadi skedul kami adalah, pergi ke hotel, cek in dan langsung menuju tempat konser (yang dilaksanakan di sebuah hotel lain di bogor).
Saya udah penasaran bgt sama hotel ini, lebih kepada karena lokasinya, yang berada di sentra kuliner pecinan khas Bogor. Buat turis dari Jakarta,…