Langsung ke konten utama

(bitter) sweet escape to Viet Nam

finally
Hello, Indochine!


Sebetulnya hasrat pengen jajal Viet Nam, udah lamaaaa bgt. Apalagi saya pernah nyesel bgt ga beli promo tiket ke Ho Chi Minh City yang saat itu muraaaahnya ampun-ampunan. Nah yang ini pun, promo, tapi ga murah-murah bgt sih, tapi demi menghilangkan rasa penasaran, akhirnya izin suami utk sepakat ngetrip berempat ke HCMC.

Saya review berkali-kali, HCMC lebih banyak museum, jaraknya dekat dan mudah dipahami. Tetapiiii hampir semua review yang saya baca, HCMC itu tidak aman, tidak tourist friendly, tidak fasih berbahasa inggris, dan masyarakat lokal cenderung tricky. Wew, bahkan H-2, suami kasih link ttg review seorang traveler ttg keamanan di HCMC. Phiiw, agak gentar jg, krn saya bawa anak-anak. Langsung catet:
- Klo tawar menawar harus jelas, mau dengan rupiah, dong ato dollar
- hati2 dengan tas, dan bawaan lainnya
- paspor! better tinggal di hotel, dititip ke reception

oke catetttt smua
Saya sudah bikin itinirary, spot2 yang bakal kami kunjungi. Everything seemed so smooth. Until H-8 tanggal keberangkatan, cuti saya belum juga diapprove. Sebetulnya udah, tapi systemnya eror, dinyatakan cuti saya tolak. Diminta aplot lagi, kemudian masih ditolak. Ya ampuuuun. Aplot ketiga kalinya, bos saya belum juga approve. Siggh.

Selain itu, kerjaan lagi gila-gilanya, saya banyak skedul miting dan ada rapat dengan direksi. Banyak surat, proposal dan laporan yang mesti submit. T____T

Until then, H-7, Sena anget. Dibawa ke dokter, positif flu singapur, terlihat banyak bintil keluar di kerongkongan, mulut, tangan dan kaki. Astagfirullaaaaaah. Dr Herman, dokter anak langganan kami, sempet mention, jika kondisi sena tidak kondusif, harus diopnam. Sebetulnya virus flu spore sendiri akan reda dalam 3 hari, bintil hilang dalam 7 hari, asal anak mendapat asupan makan dan istirahat cukup. Untunglah, Sena cukup cepat terdeteksi oleh saya, saya programkan makan bubur dan buah, memastikan cukup cairan masuk. Selain itu, saya jejel stimuno utk menjaga stamina Allena. 3 hari, Sena recover dengan cepat. Allena masih lampu kuning smpai tgl keberangkatan.

H-2, cuti saya diapproved. Agak ada titik terang, bahwa trip ini akan terealisasi. Hotel sudah saya beli online, berbekal brosing berhari2, akhirnya saya sreg dengan salah satu hotel. Terus terang, hampir semua reviewnya sama, reception tidak ramah, reception tidak informatif, hotel menipu, dsb dsb. Thanks to Traveloka (again), saya mudah mencari dan mereview hotel.

H-1 malam, baru saya packing, secepat kilat. Saya lebih ringan trip kali ini, Sena udah bisa makan ala orang dewasa, jadi ga rempong bawa slowcooker, dsb dsb. Baju, alat mandi, alat solat, obat-obatan, kamera, gendongan ergo, tempat bekal serta alat makan dan stroller. everything ready and packed. Oh ya, saya bener2 terbantukan dengan penggunaan vacuum bag. Vacuum bag saya beli di Ace Hardware ketika trip ke Malang. Pertimbangannya karena, volume baju hangat yang tebel2 bisa mengurangi kapasitas koper, dngan vacuum bag sukses terkompres hingga 75%. Saya bawa 2 luggage, yang masuk ke bagasi dan satu ukuran kabin. Both, sangat nolong kami traveling. Untuk koper kami pilih yang berbahan fiber dengan roda empat, yang bisa maksimal bergerak kesana kemari, jadi meringankan kami. Stroller? ahhh as i proposed at the first time when I bought this stroller, Pock It keluaran Choco latte, bener2 ringan, mudah dilipat menjadi kecil dan anak2 nyaman sekali di stroller ini.

Everything smoothed, until kita sudah OTW ke bandara, wa saya nyala, tetangga saya kirim message.

"mama Allena, alarm mobilnya nyala terus. Ada di rumah ga?" Doeeeeeeeeeeeeeeeeng!!
Keringet dingin langsung merayap punggung saya. Kunci rumah saya bawa. Kunci mobil ada dalem rumah. HOOOWWW! posisi sudah di tol bandara, waktu boarding 3 jam lagi. Untuk yg tau kondisi lalin Jkt, pasti paham, adalah suatu kemustahilan kalo saya mesti balik lagi ke Bogor, matiin alarm, kemudian jalan lagi ke Jakarta, tanpa telat cek in.
Tapi....
Ga mungkin banget, mobil ditinggal 5 harian, alarm bunyi melengking, ganggu tetangga, noooooooo...

Akhirnya saya inget, saya punya back up kunci rumah di rumah ibu saya. Kontak adik saya, kunci dicari (sempet ga ketemu, duh duh duh). Akhirnya ketemu, harus nunggu lagi, krn adik saya masih repot. Sekitar sejam kemudian, adik saya infokan, dia sudah sampai di rumah saya, bisa masuk rumah, alarm mobil dimatikan, mobil dibawa ke rumah ibu saya. Phiuuuuh.

Kami sampai di bandara, suami solat jumat, saya suapin anak2 makan siang. Mood anak-anak selalu bagus pas di bandara, apalagi kami naik Airasia, jadi terbang dari terminal 3 yang ada playgroundnya, Allena's fave! Eh sekarang sena juga udah bisa ikutan menikmati playground. Sambil nunggu boarding kami makan siang di executive lounge. Semuanya lancar, pesawat ontime, jam 4 kami terbang menuju KLIA, Allena langsung tidur as usual, Sena melek sepanjang penerbangan. Tiba di KLIA, kami transit dan pesawat menuju HCMC retime 1 jam. Kami manfaatkan untuk beres-beres dan makan malam (masih dari bekal yang saya bawa).

Penerbangan ke Bandara Tan Son Nhat (HCMC) lancar, anak2 tidur smua. Proses bagasi dan imigrasi lancar. Berdasarkan survei, kami sengaja bawa dollar amerika dan melakukan penukaran dengan Vietnam Dong di money changer lokal saja, krn akan mendapat rate yang bagus. Keluar kami langsung mencari taxi, berdasarkan survei pula hanya 2 merk taxi yang aman, yaitu Vinasun dan Mailinh. Taxi ini tidak nembak dan menggunakan meter. Hotel kami di Alagon central hotel dan spa, lokasinya baguuuusss. strategis dan dekat dengan segala museum dan pusat perbelanjaan (Ben Tanh Market). Biaya taxi kami 120.000 VND (sekitar Rp 80.000). Saat cek in kami diminta deposit, sekitar 1000.000 VND, tapi kami minta passport kami saja dijadikan deposit, selain itu demi keamaan pasport kami kaaaan.  

Waktu HCMC dan Indonesia sama, sudah pukul 10 malam kami tiba disana, tapi anak-anak malah on banget, bahkan Allena sena minta mandi karena liat kamar mandinya ada bath tub. Hahahaha. 

Pagi hari, kami bangun agak santai, langsung turun makan. Terus terang, saya agak kesulitan makan di HCMC. Ketika saya cek main coursenya, semua pakai pork. Bahkan nasi gorengnya. Akhirnya ada bubur plain, saya kasih telur mata sapi, ini menjadi menu utk Sena. Saya minta nasi putih, dan telur mata sapi. Bisa untuk Allena. Saya dan suami, akhirnya makan sereal, roti, buah, yogurt, dll. Untungnya menunya cukup banyak dan menurut saya enak. Mereka juga menyediakan Beef Pho. Saya suka buah-buahnya, tropical fruit yang ga jauh beda dengan di Indonesia, tapi mereka menyajikannya sangat bervariasi, buah naga, semangka, pepaya, nanas, pisang dan markisa. Semua enak dan dalam porsi besar. Suka deh. Saya bekal pisang utk cemilan anak2.

Petualangan kami dimulai, kami bertanya pada resepsion rute menuju Independence museum, sbagai tujuan museum hopping pertama kami.
at lobby and hotel reception

(intermezzo dikit), nulis bagian ini terasa berat bgtt.... dan jadi males. Karena... starts from now, more drama to come..

here we go (tarik napas...)
.
.
.
.
.
.
.
(Trus baru nulis lagi 1 hari kemudian wakwakwakwakwakwa)

eh ga deng, beberapa hari kemudian!! -,- (keselak kerjaan n event kantor)

jadi setelah diberi peta dengan reception (yg cukup fasih berbahasa inggris), kami langsung menyusuri jalan menuju Indenpendence Museum. Sena saya gendong, Allena naik stroller. Cuaca HCMC lebih panas dari pada di Jakarta. Saat menuju museum, kami mampir dulu ke tour and travel lokal, dan membeli paket tour ke Mekong River dan Cu Chi Tunnel. Kami sengaja tidak beli city tour, krn pertimbangannya akan jajal sndiri dengan berjalan kaki supaya lebih mudah mempelajari kota HCMC. Total tour 2 hari, saya bayar 1,700,000 VND setelah saya tawar. Tour tersebut termasuk antar jemput ke hotel dengan minibus, makan siang dan tips, serta tiket masuk (untuk mekong River), utk Cu Chi tunnel, belum termasuk makan siang dan tiket masuk.
tour agent

Agak lega sudah membeli paket tur, kami lanjut perjalanan. Di jalan kami papasan dengan tukang es kelapa, yang mana menggoda sekali, akhirnya kami beli 2 batok, yang pertama kami kira harganya 3,000 VND, (karena ketika awal kami bertanya dulu dan memastikan si penjual oke), ternyata ketika bayar, 30,000 VND. Mhhhhhhhh.

Kami sampai di independence museum, dan membeli tiket masuk, seharga 50,000 VND utk saya dan suami, Allena dan Sena gratis. Lumayan ngadem, dan kami menikmati bersantai di tamannya, karena di dalemnya agak garing, 11-12 ama Istana Bogor. Setelah anak2 minum susu dan makan pisang, kami berfoto di pesawat dan tank baja.


at independence museum's park


Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke War Museum. Rencana hari itu, selain ke war museum, kami akan ke Gereja Rotterdame dan Ben Tanh Market. Ketika sudah di simpang menuju War Museum, kami disamper 2 tukang becak, yang maksa untuk mengantar kami. Saya ingat sekali, bagaimana proses tawar menawar dan meyakinkan angka yang kami mau, rute yang kami minta, hingga akhirnya deal dan kami mulai menuju ke spot pertama. Kami mampir ke Jade Temple. Terasa agak nyaman pakai becak, karena udara panas HCMC, jadi ga terlalu menguras energi krn jalan kaki. Abang becak smpat mampirin kami ke toko keramik, tapi kami minta ttp jalan. Sebetulnya suami sempet ga nyaman, dan bilang, batalkan saja paket tur dengan si abang becak. Cuma saya dah agak cape, jd mnta terus aja. Kami mampi ke sebuah bangunan gereja, entah kenapa saya mulai feeling, agak beda dengan bayangan saya, saya ingat ketika browsing, rasanya imagenya beda. Akhirnya kami manfaatkan foto saja. Abang becak smpat menawrkan untuk antar ke pasar yg lebih murah dari pada Ben Tanh market, mmg kami dengar Ben Tanh lebih mahal, Tapi suami keukeuh, krn kami ga tau tempatnya, dan hotel kami dekatnya dengan Ben Tanh, Akhirnya kami ttp balik ke Ben Tanh.

jade temple

gereja Rotterdame (katanya)

Drama dimulai. Ketika Ben Tanh sudah mulai terlihat, abang becak berentiin kami. Masih jauh sebetulnya. Tapi kami nurut aja. Mereka minta bayaran, Yang ternyata bukan harga kesepakatan, tapi 100x lebih dari harga kesepakatan. Suami saya sempat meledak, tapi saya agak ngeri jg, krn biar gmn kami berhadapan lgsg dengan orang lokal, yg bisa dibilang, bisa aja kalap n pendek sumbu. Akhirnya... mereka ambil uang kami. Sungguh, kami smpat terdiam lama di tempat kami diturunin, shock, sakit hati,  kesel. Campur aduk.  Uang yang mereka ambil, hampir setara harga 2 days trip kami, whole family. Gilak.

Kami putuskan segera kembali ke Hotel, healing. Hari masih siang, tapi saya mutuskan saya mau istirahat saja, suami cari makan keluar dan saya jaga anak2. Entahlah, Allena sempat menangis, mgkn dia merasakan kepanikan dan sakit hati kami. Sempet sedih, knp dia ikut merasakan sakit itu di tengah liburan.

Saya dan suami akhirnya ambil kesepakatan, bahwa jatah belanja oleh2 udah habis digasak si tukang becak, sisanya buat makan dan taxi. Syukurrrlah....kami sudah beli trip buat 2 hari. Syukurlaaah, dokumen kami aman, ga ilang, syukurlllaaah, saya masih ada suami dan anak2 yang bantu healing.

Malemnya, krn cape (pikiran tepatnya, bener2 yah nguras energi klo cape pikiran). saya memutuskan tidur lebih cepat, krn besok pagi harus pagi2 dijemput travel. Another drama, tau2 Sena teriak2 bangunin saya, dia matahin kaca mata saya -___-. The one and only pulak. Saya yg minusnya gede, udah ampe tahap tergantungan pake kacamata. Dan ga bawa back up softlens. Pengen nangisss..Tapi ya sudahlah, saya tenangin Sena yang tampaknya panik. Kami tidur, sambil mikir gimana caranya besok saya pake kacamata.

Pagi hari, hari minggu, saya bangun pagi, felt better krn saya harus cepat move on dari sakit hati sebelumnya dan menikmati sisa hari yg kami punya. Saya coba pakai kacamata dengan gagang sebelah, lucky me, bisa! terbantu krn saya pakai hijab. Anak2 kooperatif sekali, sarapan di hotel menunya Moslem friendly, ayam dan ikan! horeee. Kami berangkat tepat jam 7.30, travel sudah jemput kami dengan tujuan Mekong River! yay.

Kami dijemput dengan Minibus (Toyota Hi-Ace) lengkap dengan Wi fi, jadi saya masih bisa kontak keluarga dan upload foto. Suami jg cepat move on, tp kami jadi jauhhhh berhati2 dan defence dgn org lokal (which means really rare we do this). Perjalanan menuju Mekong River Delta sekitar 1 jam, dalam minibus beragam turis, dari US, UK, China, Singapore dan Indonesia. Kami sempat berhenti 20 menit di rest area. Rest areanya tidak seperti rest area di Jkt, yang bagus dan bersih. Ini rest area pinggir jalan yang agak berdebu (bayangkan jalanan Karawang), tapi banyak sekali hammock, kursi malas gantung. JAdi kami, terutama Allena seneng bgt leyeh2 di hammock. Sampai di Mekong River Delta, kami naik perahu, menuju My Tho. My Tho merupakan pulau-pulau di sekitaran Mekong River yang terbentuk dr kumpulan pohon-pohon mangrove. Sungai Mekong airnya coklat pekat, beda dengan Sungai di Bangkok ketika kami menyebrang menuju Wat arun. Mekong sepertinya kena erosi tanah dari hulu. Banyak kapal tongkang pembawa pasir, mengingatkan saya dengan Sungai Mahakam.
rest area menuju Mekong Delta


PErjalanan 10 menit, kami tiba di My Tho.Sesampainya di My Tho, kami langsung menuju peternakan lebah. Disini kami dipersilahkan mencicipi minuman madu dan teh serta cemilan kacang dan keripik pisang khas My Tho. Setelahnya kami lanjut menuju perkebunan buah. Kami langsung diundang ke gazebo besar, disini kami menikmati buah lokal, seperti Sawo, Rambutan, Semangka, Nanas dan buah naga. Lengkap dengan teh asli vietnam, teh pandan. Sambil menikmati buah, kami ditemani dengan alunan lagu viet Nam yang dinyanyikan oleh 4 orang, 2 wanita, 1 anak2 dan 1 laki2 dewasa.

Canoeing at My Tho

Menikmati teh pandan madu dan cemilan kacang
Menikmat buah tropis diiringi Viet Namese Song


Setelah selesai menikmati buah dan lagu, kami diajak menuju sebuah kanal, untuk naik canoe! woohooo.. Kami naik canoe di kanal sempit. Yang mengendarai seorang wanita dengan baju khas Viet Nam. Mereka lincah dan kuat sekali. Kami diberi topi caping, topi khas petani dan warga Viet Nam. Kami menyusuri kanal, seru! Anak2 dan suami seneng bgt. Kami sampai di suatu desa dan diminta untuk berpindah naik andong. Andong sedikit beda dengan Andong di Indonesia, tapi juga ditarik oleh kuda. KAmi menyusuri desa-desa, sampai di sebuah penangkaran buaya, dimana kami akan makan siang. Dalam tur ini cuma kami yang moslem, tapi tur agen kami membantu dengan menyiapkan makanan halal, ayam dan sayuran serta nasi putih. Selesai makan, kami muter2 melihat penangkaran buaya, landak, kodok, ular. Terdapat sepeda yang boleh digunakan utk muter2 desa, tapi mengingat bawa anak2, saya skip. Kami leyeh2 di hammock yang sudah disediakan. Jam 2, kami dijemput lagi, dan lgsg naik canoe lagi menuju dermaga pulau My Tho. sampai di dermaga, kami pindah naik boat menuju pelabuhan Mekong Delta. Ahhh menyenangkan! Perjalanan kembali ke hotel 1 jam, kami diantar lagi ke hotel, tiba jam 4an. Anak2 smpat tidur di bus, jadi sampai hotel langsung mandi dan istirahat. As usual, saya sbtulnya pngn bgt jalan2 malem, terus terang, HCMC cantik sekali kotanya. Tapi masih parno, jadi memutuskan stay aja. Suami yang keluar beli makan dan sempat mampir ke Ben Tanh beli oleh2 sebisanya. Seriously, suami bilang, oleh2nya muraahhh. Tapi tapi, klo dah bokek ya tetep aja ga leluasa kan yaaa..

andong di Viet Nam

Allena's fave, hammock
Canal at My Tho


Hari senin, saya bangun pagi lagi, krn harus siap2 utk tur hari kedua. Kami sarapan, dan menu hotel kembali ke ga friendly dgn moslem. Pork dmn2, Kami makan lagi dengan nasi dan telur, roti2, buah, yogurt, KAmi dijemput jam 8, langsung menuju Dai Dao Temple. 4 jam menuju lokasi, kami smpat singgah untuk makan siang, Makan siang tidak termasuk biaya travel, jadi kami bayar sendiri. Dan ngga enak! saya pesen ayam, tapi mual bgt liatnya. Anak2 saya bekali nasi dan telur dari hotel. Sampai juga di Dai Dao Tempel. Tempel ini merupakan agama yang terbentuk dari 3 agama. Tempel dibuat karena ketika jaman perang, dipakai untuk bersembunyi dari penjajah Perancis. Dahulu, tempat ini berada di dalam hutan lebat. Kami sampai tepat ketika mereka melakukan ibadah jam 12. Pengikutnya tidak banyak dan hanya ada di HCMC, cmiiw. Agak banyak hal yang do and donts disini, dari pintu masuk, tdk boleh berfoto, tapi boleh foto jemaatnya, dsb dsb.
Sembahyang di Dai Dao Temple

Sekitar sejam kami disana, lanjut menuju Cu Chi Tunnel! Cu Chi tunnel sekitar 1 jam dari Dai Dao temple. Saya excited bgt, teringat dengan film2 perang Vietnam Amerika tahun 90an *and the age reveal*. HTM Cu Chi tunnel belum termasuk paket tur, Masuknya 100.000 VND utk 2 orang, anak2 gratis. Kami mengitari tunnel2 dan melihat jebakan2 yg dibuat oleh para Viet Kong di jamannya. Pintar sekali dan sangat efektif. Tur guide bilang, begitulah mereka survived, memanfaatkan sampah2 bom dari yang dilempar oleh orang amerika, bertahan dengan apa yang ada, dan surprisingly, mereka survived loh! mungkin Viet Nam satu2 nya negara ASEAN yang bs knocked off amerika deh. Salute! Dari 200 Km tunnel, yang sangat sempiiiit itu, tersisa 20 Km saja. Sisanya hancur oleh bom. Hebat bgt, lihat konstruksinya. Allena dan suami sempat nyobain 20 m, keciiill bgt, hanya tinggi 1 m, lebar 70 cm. Postur orang Viet Nam cocok, kecil dan lincah.Kami sempat menikmati snack singkong kukus, serta bumbu kacang manis dan teh pandan. Perjalanan pulang 2 jam ke hotel, kami hepi sekali. Tur yang kami ikuti seru. Saya as usual, rehat di hotel, suami yang cari makan. Suami menemukan resto halal, makanannya enak2. Olahan ayamnya beragam, tiap hari suami beli menu yang berbeda.

Tank Baja bekas tentara Amerika

Menikmati singkong kukus ala tentara Viet Kong
Contoh bangunan jaman perang


Kami sampai di hari selasa, hari terakhir sebelum liburan berakhir. Saya dan suami memberanikan diri untuk stroling. Tinggalin tas dan barang2 yang memancing. Kami jalan menyusur kota HCMC yang sibuk dengan rutinitas kerja dan sekolah. Kami jalan kemana kaki melangkah saja, dan tiba2 sampai di sebuah gereja. Gereja yang saya maksud ke si tukang becak! Zonk bgt. Berarti emang mereka niat bgt nipu kami. Ya sudahlah. Di seberang gereja ada kantor pos yang hits bgt, one of must visit di sana. Kami istirahat dan menikmati arsitekturnya. Foto-foto di sekitar bangunan kantor pos dan gereja kemudian strolling balik ke hotel untuk beres2, istirahat dan packing. Kami makan siang di hotel, minta late check out, dan manggil taxi. Perjalanan ke bandara sekitar 30 menit. Biaya taxi sekitar 120.000 VND. Kami cek in dan beres2 sebentar. sebelum masuk ke immigration gate.

Kantor Pos
Gereja Notredame

Drama dimulai, suami minta izin ke toilet, saya lihat dia pegang Hp-nya. Saya, Allena dan sena menunggu sambil nyuapi sena. Pintu toilet tepat di depan saya. Suami sekitar 15 menit kemudian keluar, trus blg, "eh Hp ku sama kamu ya?", saya jawab cepat "engga, kamu bawa". Dia langsung secepat kilat kembali ke toilet, yang mana Hpnya udah ga ada. Dicek ke semua bilik, ga ada. Ditanya ke petugas juga ga ada. Hp suami saat itu online, tapi saya ga bs hubungi. Saya whatssapp pun ga direspon. Suami bilang, dia kasih password ke smua app, jadi ga akan bs baca sms ato wa, kecuali angkat telp. Akhirnya kami bikin pengaduan ke bagian keamanan, menginfokan flight dan informasi diri. Saya tetap berusaha menghubungi, walo tidak direspon. Suami mencoba me-log out semua akses ke sosmed dan imel, ibanking dan lainnya. Meminimalkan damage dari hilangnya HP tsb. Kami boarding dan masih tidak ada laporan hp ditemukan. Kami terbang ke KL, sampai KL, hp suami saya masih online, saya hub ttp tidak merespon. Dugaan kami, sepertinya petugas cleaning service toilet, dan orang pertama yg suami saya hubungi ketika HP hilang. Sigh. Kenapa dia? pertama, hp suami online krn wifi airport. artinya, klo orang non airport, pasti dalam 1-2 jam setelah Hp hilang, wa saya tidak akan delivered. Tapi wa saya delivered sampai jam 9 malam. kedua, Hp suami ttp pakai nomor indonesia, jadi ga bisa saya telpon. Bener2 hanya bergantung pada kekuatan baterei dan wifi airport. Siapa yang stand by sampai malam di bandara? kemungkinan besar ya petugas house keeping tadi. Saya masih berharap, saya imel bagian lost and found bandara HCMC, menginfokan barang suami. Kami transit di KL, sekitar 3 jam, flight kami jam 10 malam. Kami pakai untuk rehat saja, sambil berusaha menonaktifkan semua akses yang dimiliki suami. Takut2 dimanfaatkan oleh pencurinya.

Kami terbang kembali ke jakarta, everything smooth. Suami sempat agak bingung, krn dia harus mengontak drivernya untuk menjemput kami di bandara. Akhirnya kami bikin plan B, naik taxi ke kantor suami, dan ambil mobil di sana baru kembali ke rumah. Proses imigrasi lancar, sampai akhirnya kami claim bagasi. Kami menunggu bagasi kami, semua kluar kecuali 1, hingga akhir. Stroller pockit kami tak juga muncul.

Cape rasanya, saya sampai ngebatin, apalagi iniihh...sampai di ujung trip aja stroller hilang. Ternyata kami ga sendiri, ada 2 penumpang yang bagasinya tidak ada, malah lebih parah, masing2 2 koper gede. Petugas airasia, ramah sekali, membantu kami membuat laporan, dan men-track keberadaan stroller kami. Ternyata dalam 5 menit lgsg ketemu, ketika kami transit di KL, kami bergabung dengan jamaah umroh, pesawat menjadi over bagagge, beberapa memang sengaja ditinggal, dan akan dikirim sehari setelahnya, ke rumah masing2 penumpang. Saya sempet judes nimpalin, "mas mas, rumah saya di cianjur looh", dan mas-mas airasia, meski itu jam 12 dini hari, tetap waras dan ramah, "tenang bu, kami akan antarkan kemana pun alamatnya, karena itu bentuk tanggung jawab kami". Nyesss bgt, seriously, thumb up utk management airasia. Service excellent total, flight murah yang ga murahan. Banyak trip kami dengan airasia, hampir tidak pernah saya kecewa. Allena dan sena jam 1 pagi, masih semangat maen di playground terminal 3, bahkan adek sempet ngamuk ga mau pulang hahahaa.

Kami keluar dari terminal 3, bahagia rasanya. Driver suami sudah stand by. Ya Alloh, sungguh Alloh baik sekali sama kami. Kami jalan balik ke rumah, lancar alhamdulillah, jam 2.30 pagi kami tiba. Suami langsung istirahat, krn msti berangkat lagi ke kantor jam 5 pagi. Saya bs rehat lebih lama karena masih cuti. Esok harinya, pegawai airasia kontak saya, bahwa stroller kami sdh tiba di Soetta, dan akan segera diantar oleh kurir, kemungkinan sampai sore di rumah. Sekitar magrib, ada kurir kontak saya, stroller kami pulang kembali. Horee.. Weldone Airasia!

Terus terang, HCMC trip ini yang paliiiiing banyak dramanya. entah rahasia dan rencana apa yang Alloh siapkan bagi kami, tapi yg jelas buat kami bersyukur. Diberi kesempatan untuk bersama2 walo sebentar, drama2 tsb, bikin kami lebih solid. Kami tetep hepi meskipun banyak skali kerikilnya. Kami bisa pulang selamat tanpa kekurangan apa pun. Belajar utk menata hati bgt supaya, segala halangan tidak membuat kami lantas jatuh dan terpuruk berlarut-larut. Meski setelah dipikir2, eh yang hilang itu kan cuma uang ga seberapa dan Hp yang ga mahal yah, yuk itu mah masih bisa dicari. Kebahagiaan, kesehatan dan keselamatan anak, suami dan diri saya sendiri berjuta2 kali lipat lebih berharga dari itu. Thanks Alloh, this trip was just too beautiful, just like the others we've been through.

Now, we are really excited to what comes next. What  trip we are gonna arrange. What life would bring to us.

it's all mistery, let's embrace and cheers to every moment

Komentar

Mba mega aku deg-degan bacanyaaaaa.

Seru! banget ya! both in good and bad way tapi insyaallah manis untuk dikenang yaahh.
Aaaakk!!! aku ga mau ke Vietnam *lhaaa. Hahahaha. Ga deng :p
Makasih ya mba sharingnyaa. Selalu membantu aku yang biasanya curi ittinerarymu. hahahh *padahal cm yg phuket doang.

Ketemu dong ah mba ngobrol2 jangan lewat watsapp ajaahh. hihihi.
hidung-bertahi-lalat mengatakan…
hahaha...iyahh ini trip paling adrenaline rush bgtttt, dari berangkat ampe pulang hahahaha...paling banyak dramanyaaa, biasanya aku drama dari internal (baca suami), ehhhh ini banyaknya dari faktor luar.

iyaahh ntr kapan aku ke pusat kita ngobrol2 yaaaah
yudhi puspa tia mengatakan…
aku ternganga! dan sesuai kata fianty deg2an baca tiap paragrafnya hahaha

egah seru dan berkesan banget, semoga jadi pengalaman yg sangat berharga buat bekel nanti keliling dunia bersama2 sena allena n daddy rudi, aamiiinn...

semnangat jalan2 terus ya gah, dan iyah plg penting adalah kebersamaan ya :)
hidung-bertahi-lalat mengatakan…
iyah yaheee, bnyak bgt pelajaran yg diambil nih dari trip kali ini

lebih kepada jd mensyukuri hal2 kecil yang baik yang kita peroleh...

betullll, yg penting kebersamaan ihihihihi

Postingan populer dari blog ini

Slow cooker, temanku..

Berhubung bukan ratu dapur...alias bener2 ga ngerti alat perang di dapur, saya bener2 terbantu dengan penemuan slowcooker utk memasak makanan allena

Buat saya yg kerja, waktunya ga banyak utk Allena, tapi pengen terlibat banyaaaaak dalam urusan yang masuk ke perut allena, jadilah alat ini sangat membantu. Klo digodok (ya itulah, bahasa emak2, artinya dimasak dalem rantang, tpi dikasih wadah air dibawahnya, trus dimasak agak lama di kompor, kira2 gtu), ga akan sempet utk saya yang berangkat subuh, pulang isya. Sebetulnya bisa aja, tp saya harus bangun jam 3 pagi, untuk berkutat dengan kentang, wortel, zukini dan teman-temannya. Duh rempong juga ya.. Secara roh saya jg masih wara wiri kali, hehehe.

Sebetulnya bisa juga saya titipkan urusan masak memasak ini dengan ibu saya, ato dengan ART di rumah, tapi kok ya rasanya saya ga mau. Cukup deh, saya ga bisa 24 hr/7 days di dekat Allena, jangan sampe masalah makannya, saya jg ga bisa handle. Sebetulnya ini untuk menghapus rasa bersalah aj…

staycation: The 101 hotel and resort bogor

Mendadak staycation jadi turis sehari di kota sendiri
November ini blass kita cuma menikmati kota Bogor. Rencana ultah anak-anak di pertengahan bulan, bikin ngerem (budget) dan juga nyicil persiapan (ini sebenernya ga jelas jg sik, hahahah).  Tapi yang jelas wiken, kdg abis waktu cm buat balikin nyawa aja buat persiapan weekdays berikutnya hiihihhi.
Trus tiba2 rezeki dateng, suami bilang, dia dapet voucher nginep di The 101 hotel Bogor. Ahhh asikkk, lgsg semangad packing bwt staycationan.
hari sabtu tiba, saya memastikan rumah beres dulu. Setelah masak, nyiapin anak2 (mandi makan) dan bibi kesayangan bantu beresin rumah, baru deh kita siap2 berangkat. Hari itu bertepatan pula dengan konser piano 2 sepupu Allena, jadi skedul kami adalah, pergi ke hotel, cek in dan langsung menuju tempat konser (yang dilaksanakan di sebuah hotel lain di bogor).
Saya udah penasaran bgt sama hotel ini, lebih kepada karena lokasinya, yang berada di sentra kuliner pecinan khas Bogor. Buat turis dari Jakarta,…

10-baby-thingy must have item (11! i revised)

ini postingan sebetulnya udah lamaaa bgt pengen dibuat,  tapi ga sempet2. Baru sempet kepikiran, karena ini merupakan pengalaman pribadi saya sendiri, dan baru kerasa pas anak kedua, ada beberapa barang yang ternyata lumayan pricey, tapi worth to have, malahan must have karena sangat bermanfaat. oke, let's start..
1. Pompa ASI saya ingatkan yaah, ini memang berdasarkan pengalaman saya. Mungkin di ibu baru lainnya, item ini akan tidak diperlukan. Semuanya depends on her condition. Kondisi saya? saya ibu bekerja. Untuk saya pompa ASI sangat bermanfaat, untuk mensupport saya agar bisa ASI exclusif hingga 2 tahun. Pengalaman dengan Allena, saya pumping sampai H-1 Allena usia 2 tahun, dan berhasil disapih di usia 30 bulan. Saya pakai pompa ASI, merk Medela, mini electric. Pompa ini saya peroleh dari lungsuran kakak saya. Saya sempat pakai 2 type, Medela Harmony (manual), itu pun lungsuran kakak saya. Tetapi ternyata partnya gampang banget robek, apalagi type pemakaian seperti saya, yan…