Langsung ke konten utama

sibling rivalry

"kamu ga akan tau, sampai kamu nanti punya anak"

waktu saya kecil, bahkan sampai dewasa, ada saat2nya saya benci sekali dengan saudara2 saya (sepupu ato kakak saya). Tapi tidak pernah benci ke adik saya.

Begitulah, saya besar dan menghabiskan sebagian besar masa kecil saya, dalam sebuah keluarga besar, ada orang tua, 2 kakak dan adik, dan selama beberapa tahun, kami tinggal dengan sepupu-sepupu saya, bahkan dalam 1 rumah pernah ditinggalin oleh 10 anak perempuan beragam usia. Dari usia SD hingga Universitas.

Rumah kami ramee setiap hari, dan ada kalanya ibu saya kerepotan untuk melayani satu-satu. Akhirnya diatur bahwa semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Makanan harus dibagi rata, pekerjaan rumah tangga dibagi rata, bahkan ibu saya menyiapkan jadwal piket utk menyapu dan cuci piring, setiap anak pasti kedapatan pekerjaan tsb. Semua dibagi rata, bahkan jika 1 anak mendapat hadiah, berarti semua akan kebagian. JIka 1 anak, dirayakan ulang tahun, berarti semua jg dirayakan. Tapi entahlah, ibu saya percaya saja, bahwa melalui proses ini, keluarga kami mendapatkan berkah lebih.

Tapi saya sering jengkel dengan sepupu dan kakak-kakak saya, rata-rata pasti yang usianya lebih tua dari saya. Entahlah, untuk hal-hal sepele, saya sering melihat bahwa ada ketidakadilan. Menurut saya, saya adalah pihak korban. Walo ga pernah terbersit kata2 tersebut, karena memang saya tipe yang ga pernah mau orang sampai tau apa yg saya rasa. Tapi ibu saya mendapat sinyal tsb, dan bilang "ga ada yang mama beda-bedain, semua sama".

Perasaan tsb, kdg terbawa sampai dewasa, sbelum saya menikah, ibu saya pernah berujar, bahwa beliau membesarkan ke-4 anaknya dengan adil, sama rata, tidak ada yang dibeda-bedakan. Sampailah tercetus kata-kata, "kamu ga akan tau, sampai kamu nanti punya anak".

Hingga akhirnya saya ketemu Allena dan Sena. Tidak ada perlakuan yang berbeda untuk mereka. Bahkan, saya menerapkan prinsip yang sama saat mereka berlaku salah. Tidak pernah membenarkan sang kakak, ketika dia salah. Salah ya salah, akui, minta maaf kemudian bertanggung jawab. Adik juga, ketika salah, akui, minta maaf kemudian bertanggung jawab. Tidak ada yang diistimewakan, apakah untuk menjaga wibawa sang kakak ato memaklumi si kecil. Tidak ada. Jika mereka bertingkah melewati batas, hukuman sudah saya siapkan. Hukuman berdiri di sudut merupakan hukuman jika sudah melewati batas. Hukuman akan berakhir sampai sang anak mau mengaku salah dan minta maaf. Biasanya berakhir berurai air mata, kemudian saya pangku dan peluk. 

Intinya ada hal-hal yang menurut saya tidak pas, pada rules orang tua saya dulu, tidak mau saya terapkan, agar tidak muncul rasa ketidakadilan ato berat sebelah ato rasa "mama lebih sayang adik/kakak".

Hingga muncullah komplain Allena baru-baru ini. "Momi ga sayang aku. Momi lebih sayang adek."
Bingung dan sedih, bagaimana berusaha menjelaskan bahwa semua adalah kesayangan. Saya coba jelaskan bahwa semua sama. Tapi penjelasan itu rasanya percuma. Tiba-tiba saya teringat ibu saya. Bagaimana beliau mgkn putus asa jika ada yang komplain hal serupa. Saya akhirnya coba dekati dari sisi yang berbeda. Saat ini Allena memelihara 2 kucing liar. Kucing yang sangat dia dan Sena sayangi, setiap hari diberi makan dan diajak main. Kelvi dan Kiti, begitulah nama yang dia berikan. Akhirnya saya tanya ke Allena, mana dari 2 kucing itu yang dia lebih sayang. Allena ga bisa milih. Dia sayang semua. Melalui penjelasan itu, saya bilang bahwa seperti itulah rasa sayang saya ke mereka berdua. Untuk sementara dia memahami.

Saya coba telusuri, hal apa yang membuat Allena menjadi merasa kurang disayang. Sepertinya adalah efek dari pindah kamar dan belajar mandiri. Jadi setelah Allena memutuskan untuk mandiri, ada kalanya saya ajak Allena untuk tidur sama saya lagi, terutama klo Pak Suami dinas. Saat itulah, dia biasanya melepas rindu dan memeluk "perut" kesukaannya. ihihihi. Sering kali terlihat, Allena menjadi agresif, klo adeklah yang memeluk lebih banyak, padahal saya memposisikan diri di antara mereka berdua, jadi adik di kanan kakak di kiri. Menjelang tertidur adalah hal paling heboh, karena pake debat dulu. Baru reda klo saya mulai membacakan doa, dan satu-satu mulai tertidur.

Oh begini yah rasanya, sibling rivalry. Hal yang saya benci ketika kecil, dan saya membatin dalam diri saya, bahwa anak2 saya ga boleh merasakan hal itu. 

Ternyata, naturally, it comes
and it's true
I finally know what my parent tried to do.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Slow cooker, temanku..

Berhubung bukan ratu dapur...alias bener2 ga ngerti alat perang di dapur, saya bener2 terbantu dengan penemuan slowcooker utk memasak makanan allena

Buat saya yg kerja, waktunya ga banyak utk Allena, tapi pengen terlibat banyaaaaak dalam urusan yang masuk ke perut allena, jadilah alat ini sangat membantu. Klo digodok (ya itulah, bahasa emak2, artinya dimasak dalem rantang, tpi dikasih wadah air dibawahnya, trus dimasak agak lama di kompor, kira2 gtu), ga akan sempet utk saya yang berangkat subuh, pulang isya. Sebetulnya bisa aja, tp saya harus bangun jam 3 pagi, untuk berkutat dengan kentang, wortel, zukini dan teman-temannya. Duh rempong juga ya.. Secara roh saya jg masih wara wiri kali, hehehe.

Sebetulnya bisa juga saya titipkan urusan masak memasak ini dengan ibu saya, ato dengan ART di rumah, tapi kok ya rasanya saya ga mau. Cukup deh, saya ga bisa 24 hr/7 days di dekat Allena, jangan sampe masalah makannya, saya jg ga bisa handle. Sebetulnya ini untuk menghapus rasa bersalah aj…

10-baby-thingy must have item (11! i revised)

ini postingan sebetulnya udah lamaaa bgt pengen dibuat,  tapi ga sempet2. Baru sempet kepikiran, karena ini merupakan pengalaman pribadi saya sendiri, dan baru kerasa pas anak kedua, ada beberapa barang yang ternyata lumayan pricey, tapi worth to have, malahan must have karena sangat bermanfaat. oke, let's start..
1. Pompa ASI saya ingatkan yaah, ini memang berdasarkan pengalaman saya. Mungkin di ibu baru lainnya, item ini akan tidak diperlukan. Semuanya depends on her condition. Kondisi saya? saya ibu bekerja. Untuk saya pompa ASI sangat bermanfaat, untuk mensupport saya agar bisa ASI exclusif hingga 2 tahun. Pengalaman dengan Allena, saya pumping sampai H-1 Allena usia 2 tahun, dan berhasil disapih di usia 30 bulan. Saya pakai pompa ASI, merk Medela, mini electric. Pompa ini saya peroleh dari lungsuran kakak saya. Saya sempat pakai 2 type, Medela Harmony (manual), itu pun lungsuran kakak saya. Tetapi ternyata partnya gampang banget robek, apalagi type pemakaian seperti saya, yan…

staycation: The 101 hotel and resort bogor

Mendadak staycation jadi turis sehari di kota sendiri
November ini blass kita cuma menikmati kota Bogor. Rencana ultah anak-anak di pertengahan bulan, bikin ngerem (budget) dan juga nyicil persiapan (ini sebenernya ga jelas jg sik, hahahah).  Tapi yang jelas wiken, kdg abis waktu cm buat balikin nyawa aja buat persiapan weekdays berikutnya hiihihhi.
Trus tiba2 rezeki dateng, suami bilang, dia dapet voucher nginep di The 101 hotel Bogor. Ahhh asikkk, lgsg semangad packing bwt staycationan.
hari sabtu tiba, saya memastikan rumah beres dulu. Setelah masak, nyiapin anak2 (mandi makan) dan bibi kesayangan bantu beresin rumah, baru deh kita siap2 berangkat. Hari itu bertepatan pula dengan konser piano 2 sepupu Allena, jadi skedul kami adalah, pergi ke hotel, cek in dan langsung menuju tempat konser (yang dilaksanakan di sebuah hotel lain di bogor).
Saya udah penasaran bgt sama hotel ini, lebih kepada karena lokasinya, yang berada di sentra kuliner pecinan khas Bogor. Buat turis dari Jakarta,…